Pemahaman Objek Abstrak Matematika Guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Bintan

Keywords: objek abstrak matematika, pemahaman, focus group discussion

Abstract

Matematika memiliki objek kajian abstrak yang terbagi menjadi menjadi empat yakni fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Pemahaman pada empat objek krusial ini menentukan pemahaman lebih baik terhadap matematika yang berimbas pada kualitas mengajar matematika oleh guru. Mengingat pentingnya memahamai objek matematika tersebut, maka dilakukan penelusuran melalui Focus Group Discussion terhadap 17 guru matematika SMA Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Melalui teknik ini digali informasi mengenai pemahaman guru meliputi bagaimana guru mendefinisikan dan memberikan contoh pada masing-masing objek tersebut. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif meliputi reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Agar dapat menginterpretasi situasi, maka digunakan teori yang memungkinkan terbangunnya kesimpulan empiris. Hasil menunjukkan hanya objek fakta yang dapat didefinisikan dengan baik dengan pemberian contoh yang tepat dan luwes. Objek prosedur dipahami oleh semua guru, tetapi pemberian contoh terbatas hanya pada konteks bilangan. Konsep sebagai sebuah objek didefinisikan sebagai ide abstrak dan diasosiakan sebagai definisi oleh tidak lebih dari sepertiga guru dengan pemberian contoh terbatas. Pandangan mengenai konsep sebagai semua konten termuat dalam materi merupakan hal yang juga muncul di kalangan guru. Prinsip sebagai objek yang paling rumit tidak dipahami oleh semua guru dan di atas situasi tersebut pemberian contoh tidak dapat dilakukan.

References

Afiyanti, Y. (2008). Focus group discussion (diskusi kelompok terfokus) sebagai metode pengumpulan data penelitian kualitatif. Jurnal Keperawatan Indonesia, 12(1), 58–62.

Astuti, P., & Febrian, F. (2019). Diseminasi online multimedia pembelajaran matematika yang dikembangkan menggunakan videoscribe. Jurnal Anugerah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 1(1), 19–24.

Bell, F. H. (1978). Teaching and learning mathematics (In secondary school). Wm, C. Browm Company Publisher.

Febrian, F., Astuti, P., & Antika, R. (2019). Pelatihan pengembangan media videoscribe dengan konteks lokal dalam mengajarkan objek matematika bagi MGMP SMA Kabupaten Bintan. J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), 3(2), 101–110.

Holisin, I. (2016). Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Didaktis: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan, 7(3).

Irwanto, I. (2006). Focus Group Discussion: A simple manual. Yayasan Obor.

Lailly, N. R., & Wisudawati, A. W. (2015). Analisis soal tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS) dalam soal UN kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013. Jurnal Kaunia, 11(1), 27–39.

Maarif, S. (2015). Integrasi matematika dan islam dalam pembelajaran matematika. Infinity Journal, 4(2), 223–236.

Mahmudi, A. (2009). Pengembangan pembelajaran matematika. Online. Tersedia: Http://staff. Uny. Ac. id/sites/default/files/tmp/Pengembangan% 20Pemb, 20.

Ruseffendi, H. A. T. (2001). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Trasito.

Siregar, S. (2018). Meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual melalui Focus Group Discussion (FGD) DI SMK Negeri 1 Sirandorung Tahun Pelajaran 2017/2018. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 5(1), 14–19.

Sutiarso, S. (2009). Scaffolding dalam pembelajaran matematika. Prosiding Seminar Nasional Penelitian Pendidikan Dan Penerapan MIPA, 529.

Published
2020-05-31