Transplantasi Lamun Enhalus acoroides Menggunakan Metode Berbeda di Perairan Sebong Pereh Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan

  • Endang Mustaromin Universitas Maritim Raja Ali Haji
  • Tri Apriadi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111
  • Dedy Kurniawan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111 https://orcid.org/0000-0003-0824-3368
Keywords: Transplantasi, Enhalus acoroides, Sebong Pereh

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pertumbuhan daun dan kelangsungan hidup lamun E. acoroides dengan metode Transplantasi berbeda. Penelitian ini dilakukan April hingga Desember 2018. Metode Transplantasi yang digunakan TERFs, Plug, dan Peat Pot (Polybag). Pertumbuhan daun lamun E. acoroides pada lokasi dengan metode TERFs memiliki pertumbuhan daun rata-rata 0,480,02 cm/hari, pada metode penenaman plug pertumbuhan daun lamun E. acoroides rata-rata yakni 0,440,01 cm/hari. Pada lokasi dengan metode Peat Pot (polybag) memiliki pertumbuhan dengan rata-rata pertumbuhan 0,400,03 cm/hari. Kelangsungan hidup lamun E. acoroides untuk semua perlakuan berkisar antara 88,89% hingga 95% dengan persentase kelangsungan hidup tertinggi pada metode TERFs dan terendah pada metode Peat Pot ( polybag). Metode TERFs memiliki laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi dibandingkan dengan dua metode lainnya, sehingga metode ini dianggap lebih efektif

References

Alie. K., (2010). Pertumbuhan dan Biomassa Lamun Thalassia hemprichii di Perairan Pulau Bone Batang, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Sains MIPA, 16(2): 105-110.

Ati. R. N. A, Kepel. T. L, dan Kusumaningtyas. M. A., (2016). the Characteristics and Potential of Water to Support the Seagrass Abundance at Buyat and Ratatotok Bay Waters, North Sulawesi. Manusia dan Lingkungan, 32(3): 342-348.

Azkab, M. H. (1999). Pedoman inventarisasi lamun. Oseana 24(1): 1-16.

Azkab, M. H. (2000). Struktur dan Fungsi pada Komunitas Lamun. Oseana, 25(1): 1 – 11.

Azkab, M.H. (2006). Ada apa dengan Lamun. Oseana, 31(3): 45-55.

Calumpong, H.P, M.S. Fonseca.(2001).Seagrass Transplantasi and Other Seagrass Restoration Method. In F.T. Short dan R.G. Coles (ed), Global Research Seagrass Methods. Elsevier Science B.V, Amsterdam. Netherlands.

Duarte C.M, Middelburg. J. J, N.F. Caraco. 2005. Major role of marine vegetation on the oceanic carbon cycle. Biogeo sciences, 2(1): 1- 8.

Febriyantoro, Riniatsih. I, dan Endrawati. H., (2013). Rekayasa Teknologi Transplantasi Lamun (Enhalus acoroides) di Kawasan Padang Lamun Perairan Prawean Bandengan Jepara. Penelitian Kelautan, 1(1): 1-10.

Harniati. N, Karlina. I, Irawan. H. (2017). Laju Pertumbuhan Jenis Lamun Enhalus acoroides dengan Teknik Transplantasi Polybag dan Sprig Anchor pada Jumlah Tunas yang berbeda dalam Rimpang di Perairan Bintan. Intek Akuakultur, 1(1) : 15-26.

Hutomo, M, Azkab, M. H.( 1987). Peranan Lamun di Lingkungan Laut Dangkal. Oseana, 12(1): 13-23.

Jumniaty. S., (2013). Tingkat Kelangsungan Hidup dan Laju Pertumbuhan Enhalus Acoroides yang di transplantasi dengan Metode Staple pada apo (Alat Pemecah Ombak) dan Tanpa Apo di Kabupaten Pangkep. [skripsi]. Universitas Hasanuddin Makassar.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Tentang Baku Mutu Air Laut. Hal 1489-1498.

Kiswara. W., (1997). Pertumbuhan dan produksi Enhalus acoroides di Pulau Mapor, Kepulauan Riau. Prosiding III seminar nasional biologi. Universitas Lampung.

Komala. R., (2015). Keanekaragaman teripang pada ekosistem lamun dan terumbu karang di Pulau Bira Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta. Biodiversity Indonesia, 1(2): 222-226.

Kordi, K.M.G.H. (2011), Ekosistem Lamun (seagrass) fungsi, potensi, dan pengelolaan. Rineka Cipta : Jakarta.

Kurnia. M, Made. P, dan Deny. S. (2015). Jenis-Jenis Lamun di Pantai Lembongan, Nusa Lembongan dan Analisisnya Dengan PCR Ruas rbcL. Simbiosis. 3(1): 330-333.

Musthofa, A., Muskananfola, M.R., Rudiyanti, S. (2014). Analisis Struktur Komunitas Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Sungai Wedung Kabupaten Demak. Jurnal Maquares. 3(1): 81-88.

Nurhatika. S. (2010). Rancangan Acak Lengkap (RAL). Bahan ajar. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Surabaya.

Rahman. A. A, Nur. A. I, dan Ramli. M., 2016. Studi Laju Pertumbuhan Lamun (Enhalus acoroides) di Perairan Pantai Desa Tanjung Tiram Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Sapa Laut 1(1): 10-16.

Riniatsih. I, dan Endrawati. H., (2013). Pertumbuhan Lamun Hasil Transplantasi Jenis Cymodocea rotundata di Padang Lamun Teluk Awur Jepara. Buletin Oseanografi Marina 2(1): 34-40.

Ristiati, N., Ruswahyuni., Suryati. (2014). The Relation of Abundance Epifauna in Different Seagrass Beds Density at Pancuran Belakang Karimunjawa Island, Jepara. Jurnal Maquares, 3(4): 34-40.

Rugebregt. M. J., (2015). Ekosistem Lamun di Kawasan Pesisir Kecamatan Kei Besar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku, Indonesia. Widyariset, 1(1): 79-86.

Published
2019-11-30
How to Cite
Mustaromin, E., Apriadi, T., & Kurniawan, D. (2019). Transplantasi Lamun Enhalus acoroides Menggunakan Metode Berbeda di Perairan Sebong Pereh Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan. Jurnal Akuatiklestari, 3(1), 23-29. https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v3i1.954