Kelimpahan dan Karakteristik Kepiting Bakau pada Ekosistem Mangrove di Desa Busung Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau

  • Ruli Saputra Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111
  • Aditya Hikmat Nugraha Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111
  • Susiana Susiana Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111 https://orcid.org/0000-0002-6792-0069
Keywords: Bintan, Kepiting, Mangrove, Scylla paramamosain, Scylla serrata

Abstract

Penelitian ini mengenai kelimpahan dan karakteristik kepiting bakau pada ekosistem mangrove di Desa Busung Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keterkaitan ekosistem mangrove terhadap kelimpahan dan karakteristik kepiting bakau di Desa Busung  Kecamatan Sri Kuala Lobam Kabupaten Bintan. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling sebanyak 9 titik menggunakan transek garis berukuran 10x10 meter. Hasil yang diperoleh yaitu 2 jenis vegetasi mangrove Rhizopora apiculata dan Xylocarpus granatum. Nilai kerapatan pohon vegetasi mangrove jenis Rhizopora apiculata pada stasiun satu berjumlah 700 pohon/ha dan jenis Xylocarpus granatum berjumlah 1100 pohon/ha, pada lokasi penelitian stasiun dua vegetasi pohon mangrove jenis Rhizopora apiculata berjumlah 700 pohon/ha dan jenis Xylocarpus granatum berjumlah 900 pohon/ha, sedangkan pada lokasi penelitian stasiun tiga vegetasi pohon mangrove jenis Rhizopora apiculata berjumlah 1233 pohon/ha dan jenis Xylocarpus granatum berjumlah 300 pohon/ha. Kepiting bakau yang dijumpai pada lokasi penelitian yaitu jenis Scylla serrata dan Scylla paramamosain, jenis Scylla serrata ditemukan berjumlah 5 ekor sedangkan Scylla paramamosaian 18 ekor dengan jenis kelamin yang paling dominan jantan.

References

Avianto, I., Sulistiono, & Setyobudiandi, I. (2013). Karakteristik habitat dan potensi kepiting bakau Scylla serrata S.transquaberica dan S.olivacea di hutan mangrove cibako Kabupaten Garut Jawa Barat. Jurnal Bonorowo. 3(2): 55-72.

Bengen, D.,G. (2012). Analisis kuantitatif biofisik kelautan. Bogor (ID): Insitu Pertanian Bogor.

Buwono, Y.R.( 2017). Identifikasi dan kerapatan ekosistem mangrove di kawasan Teluk Pangpang Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Ilmu Perikanan. 8(1): 32-37.

Cahyaningrum, S.T., Hartoko, A., & Suryanti. (2014). Biomassa karbon mangrove pada kawasan mangrove pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa. Journal Of Maquares. 3(3): 34-42.

Chadijah, A., Wadritno, Y., & Sulistiono. (2013). Keterkaitan mangrove kepiting bakau Scylla olivacea dan beberapa parameter kualitas air di perairan pesisir Sinjai Timur. Jurnal Octopus. 1(2): 116-122.

Fitriah, E., Maryuningsih, Y., Chandra, E., & Mulyani, A. (2013). Studi analisis pengelolaan hutan mangrove Kabupaten Cirebon. Jurnal Scientiae Educatia. 2(2): 1-18.

Hadi, A.M., Irawati, M.H., & Suhadi. (2016). Karakteristik morfo-anatomi struktur vegetatif spesies Rhizopora apiculata Rhizoporaceae. Jurnal Pendidikan. 1(9): 1688-1692.

Hamuna, B., Tanjung, R.H.R., Suwito, Maury, H.K., & Alianto. (2018). Kajian Kualitas Air Laut dan Indeks Pencemaran Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia di perairan Distrik Depapre Jayapura. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16(1): 35-43.

Hastuti, Y.P., Affandi, R., Millaty, R., Nurussalam, W., & Tridesianti, S. (2019). Suhu terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih kepiting bakau Scylla serrata di sistem resirkulas. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 11(2): 311-322.

Hastuti, Y.P., Nadeak, H., Affandi, R., & Faturrohman, K. (2016). Penentuan pH optimum untuk pertumbuhan kepiting bakau Scylla serrata dalam wadah terkontrol. Jurnal Akuakultur Indonesia. 15(2): 171-179.

Hardiyanti, A.S., Sunaryo, Riniatsih, I., &Santoso, A., (2018). Biomorfometrik kepiting bakau Scylla Sp. hasil tangkapan di perairan Semarang. Jurnal Buletin Oseanografi Marina. 7(2): 81-90.

Irwani, & Suryono, C.A. (2012). Pertumbuhan kepiting bakau Scylla serrata di kawasan mangove. Jurnal Buletin Oseanografi Marina. 1(1): 15-19.

Julaikha, S., & Sumiyati, L. (2017). Nilai ekologis hutan ekosistem hutan mangrove. Jurnal Biologi Tropis. 17(1): 23-31.

KEPMENLH. (2004). Keputusan menteri negara lingkungan hidup. Kriteria baku dan pedoman penentuan kerusakan mangrove. Menteri negara lingkungan hidup. Hoetomo. Jakarta.

KKP. (2016). Kepala badan karantina ikan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan. Pedoman pemeriksaan atau identifikasi jenis ikan dilarang terbatas kepiting bakau. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Maulana, F., Hendrarto, B., & Suryanti. (2014). Karakteristik ukuran tinggi dan diameter batang seedling rhizophora mucronata pada substrat dengan kandungan lumpur yang berbeda di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran Lampung. Journal Of Maquares. 3(3): 130-133.

Pambudi, D.S., Budiharjo, A., & Sunarto. (2019). Kelimpahan dan keanekaragaman kepiting bakau Scylla spp di kawasan hutan bakau pasar Banggi Rembang. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 25(2): 93-102.

Patty, S.I. (2013). Distribusi suhu salinitas dan oksigen terlarut di perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 1(3): 148-157.

Putra, D., Sarong, M.A., & Purnawan, S. (2016). Kelimpahan kepiting bakau Scylla di kawasan rehabilitasi mangrove Pulo Sarok Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 1(2): 229-235.

Safitri, S.F., Sunaryo, & Djunaedi, A. (2020). Biomorfometri kepiting bakau di perairan Bandengan Kendal. Jurnal Marine Research. 9(1): 55-64.

Saputri, M., & Muammar. (2018). Karakteristik habitat kepiting bakau Scylla sp di ekosistem mangrove Silang Cadek Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Jurnal Biotik. 6(1): 75-80.

Sara, L. (2010). Study on the size structure and population parameters on mud crab Scylla serrate in lawele bay southeast Sulawesi Indonesia. Journal Coas Dev. 13(2): 133-147.

Schaduw, J.N.W. (2015). Bioekologi mangrove daerah perlindungan laut bebasis masyarakat Desa Blongko Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal LPPM Bidang Sains dan Teknologi. 2(1): 89-102.

Sentosa, A.A., & Syam, A.R. (2011). Sebaran temporal faktor kondisi kepiting bakau Scylla serrata di perairan pantai Mayangan Kabupaten Subang Jawa Barat. Jurnal Perikanan. 13(1): 35-43.

Setiawan, H. (2013). Status ekologi hutan mangrove pada berbagai tingkatan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. 2(2): 104-120.

Setiyawan, F. (2015). Kesesuaian kawasan pesisir Desa Busung sebagai kawasan wisata pantai di Kecamatan Seri Kuala Lobam Kabupaten Bintan.. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Tanjung Pinang.

Siringoringo, Y.N, Desrita, & Yunasfi. (2017). Kelimpahan dan pola pertumbuhan kepiting bakau Scylla serata di hutan mangrove Kelurahan Belawan Sicanang Kecamatan Medan Belawan Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Acta Aquatica. 4(1): 26-52.

Sofarini, D. (2012). Keberadaan dan kelimpahan fitoplankton sebagai salah satu indikator kesuburan lingkungan perairan di Waduk Riam Kana. Journal Enviro Scienteace. 8(1): 30-34.

Sitaba, R.D., Salindeho, I.R.N, & Kusen, D.J. (2017). Pengaruh perbedaan salinitas terhadap pertumbuhan kepiting bakau Scylla serrat. Jurnal Budidaya Perairan. 5(2): 8-14.

Sunarto, Sulistiono, & Setyobudiandi, I. (2015). Hubungan jenis kepiting bakau Scylla Spp dengan mangrove dan substrat di tambak Silvofishery Eretan Indramayu. Journal Marine Fisheries. 6(1): 59-68.

Suryana, E., Elvyra, R., & Yusfiati. (2015). Karakteristik morfometrik dan meristik ikan lais kryptopterus limpok bleeker 1852 di Sungai Tapung dan Sungai Kampar Kiri Provinsi Riau. Jurnal Fmipa. 2(1): 67-77.

Syahrera, B., Purnama, D., & Ta’alidin, Z. (2016). Asosiasi kelimpahan kepiting bakau dengan keberadaan jenis vegetasi mangrove Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Jurnal Enggano. 1(2): 47-55.

Tahmid, M. (2016). Kajian ekologi ekonomi kepiting bakau Scylla serrata forskal 1775 di ekosistem mangrove Teluk Bintan Kabupaten Bintan.. Insitutu Pertanian Bogor. Bogor.

Umroh. (2015). Penyemaian dan penanaman Rhizophora apiculata di daerah pasca penambangan timah inkonvensional Ti di Muara Kudai Kabupaten Bangka. Jurnal Kelautan. 8(1): 19-25.

Unthari, D.T, Purwiyanto, A.I, & Agussalim, A. (2018). Hubungan kerapatan mangrove terhadap kelimpahan kepiting bakau Scylla sp dengan penggunaan bubu lipat sebagai alat tangkap di Sungai Bungin Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Maspari. 10(1): 41-50.

Wijaya, N.I., Yulianda, F., Boer, M., & Juwana, S. (2010). Biologi populasi kepiting bakau Scylla serrata di habitat mangrove Taman Nasional Kutai Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Oseanografi dan Limologi Indonesia. 1(3): 443-461.

Zakaria, M., & Rajpar, M.N. (2015). Assessing the fauna diversity of marudu bay mangrove forest Sabah Malaysia for future conservation. Diversity. 7(1): 137-148.

Published
2020-11-30
How to Cite
Saputra, R., Nugraha, A. H., & Susiana, S. (2020). Kelimpahan dan Karakteristik Kepiting Bakau pada Ekosistem Mangrove di Desa Busung Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Akuatiklestari, 4(1), 1-11. https://doi.org/10.31629/akuatiklestari.v4i1.2467