Kondisi Ekosistem Mangrove di Perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang

  • Khairul Hafsar Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Indonesia 29111

Abstract

Tanjungpinang memiliki ekosistem mangrove seluas kurang lebih 1.300 Ha, namun 100 Ha diantaranya rusak akibat penebangan dan penimbunan untuk pemukiman dan industri yang menyebabkan banjir disejumlah wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi ekosistem mangrove di Perairan Sei Carang, Kota Tanjungpinang. Kondisi mangrove dilihat dengan mengukur kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, dan indeks keanekaragaman. Jenis – jenis mangrove yang tumbuh di Perairan Sei Carang terdiri dari Rhizophora sp., Bruguiera sp., Avicennia sp., dan Sonneratia sp. Kawasan ini didominasi oleh jenis mangrove Rhizophora sp, yang merupakan jenis mangrove yang paling banyak ditemui. Kerapatan jenis mangrove di Perairan Sei  Carang yang paling tinggi sampai dengan yang paling rendah adalah sebagai berikut yaitu Rhyzophora sp. 3000 individu/Ha, Bruguiera sp. 983 individu/Ha, Avicennia sp. 283 individu/Ha dan Sonneratia sp. 133 individu/Ha. Jenis Rhyzophora sp. merupakan jenis mangrove yang paling tinggi tingkat kerapatannya dan Sonneratia sp. merupakan jenis mangrove yang paling rendah tingkat kerapatan jenisnya. Rata-rata kerapatan jenis mangrove di Perairan Sei Carang sebesar 1100 individu/Ha yang menunjukkan bahwa kerapatan jenis masuk ke dalam kriteria sedang dan hal ini menunjukkan kondisi mangrove masih dalam keadaan baik. tingkat keanekaragaman jenis mangrove yaitu 0,8786 (H<1) menunjukkan bahwa jenis mangrove yang ada di dominasi oleh satu jenis mangrove yaitu Rhyzophora sp., sedangkan mangrove yang lainnya seperti Bruguiera sp., Avicennia sp., dan Sonneratia sp. lebih sedikit ditemui pada lokasi penelitian.

References

Bengen, D.G. (2004). Sinopsis : Ekosistem dan Sumberdaya Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.

Lestari, F. (2014). Komposisi Jenis dan Sebaran Ekosistem Mangrove di Kawasan Pesisir Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Jurnal Dinamika Maritim, 4(1): 68-75.

Nybakken, J.W. (1988). Biologi Laut SuatuPendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta. 459p.

Susiana. (2011). Diversitas dan Kerapatan Mangrove, Gastropoda dan Bivalvia di Estuari Perancak, Bali. Universitas Hasanuddin. 114p.

Susiana. (2015). Analisis Kualitas Air Ekosistem Mangrove di Estuari Perancak, Bali. Agrikan: Jurnal Agribisnis dan Perikanan, 8(1): 1-10.

Taqwa, A. (2010). Analisis Produktivitas Primer Fitoplankton dan Struktur Komunitas Fauna Makrobenthos Berdasarkan Kerapatan Mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Universitas Diponegoro.

Tuwo, A. (2011). Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian Internasional. Surabaya.

Wijayanti, T. (2007). Konservasi Hutan Mangrove sebagai Wisata Pendidikan. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, 1(Edisi Khusus): 15-25.

Published
2018-05-30
How to Cite
Hafsar, K. (2018). Kondisi Ekosistem Mangrove di Perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang. Jurnal Akuatiklestari, 1(2), 8-12. https://doi.org/10.31629/.v1i2.2288